Aku Juga Mencintaimu Maya …
Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, karena sahabatku sedang sakit di rumah sakit. Aku belum sempat melihat keadaannya maupun menanyakannya melalui telepon selularnya. Yang kutau hanya keadaannya tidak baik dan terbaring lemas di tempat tidur. Tugas dari kantor yang harus diselesaikan sudah cukup membuatku pusing dan selalu pulang larut malam.
Hari sabtu ini ketika kantor libur, kucoba untuk datang ke rumah sakit dimana Maya sedang dirawat. Saat aku datang, dokter sedang memeriksa keadaannya. Sepintas kulihat ada selang pernafasan yang dipakainya dan ada selang infus yang masuk melalui tangannya. Betapa sedih hatiku melihat keadaannya dan sudah beberapa hari di terbaring sendiri di sini. Maya tidak mempunyai keluarga dekat di Jakarta, dia tinggal di apartemen bersama seorang temannya yang sibuk bekerja juga. Beberapa kali aku pernah mengantarnya pulang ke apartemen, tapi tidak pernah bertemu dengan temannya.
Setelah Maya selesai diperiksa, dokter keluar dan menanyakan apakah aku keluarga dari Maya. Dengan tidak pikir panjang aku anggukan kepalaku karena aku ingin tau keadaannya dan dokterpun mengajak untuk berbicara di ruangan kerjanya. Dokter menjelaskan kalau keadaan maya sangat kritis dan perlu ada orang yang menjaganya. Selintas aku tidak tau apa maksud dari ucapan dokter, kucoba untuk menanyakan lebih detail tentang penyakit Maya.
Ternyata Maya tidak pernah memberitahukan tentang penyakitnya kepada teman-temannya termasuk aku. Maya menderita kanker otak. Memang dia pernah beberapa kali mengeluh kalau dia sedang sakit kepala, tapi dia selalu bilang hanya sakit kepala biasa. Pagi hari sebelum dia masuk rumah sakit, Maya menelponku untuk memberitahukan bahwa dia sedang sakit dan memintaku untuk mengerjakan tugas kantor yang masih belum sempat di selesaikannya.
Hampir satu jam aku berbicara dengan dokter yang memeriksa maya. Lalu aku segera ke kamar dimana Maya berada. Aku mencoba untuk menahan rasa sedihku dan mencoba untuk tidak membahas tentang penyakitnya. Saat aku masuk ke kamarnya, ternyata Maya seperti sudah menungguku. Seakan-akan banyak yang akan disampaikan kepadaku. Maya meminta diriku untuk mendekat dan dia mencoba berbicara meskipun dengan susah payah.
Kata-kata yang pertama kudengar dari mulutnya “Christ, aku mencintaimu …”, sejenak aku tertegun dan tanpa kusadari air mataku sudah mengalir sendiri hingga menetes ke pipi Maya. Aku pun berusaha menghapus air mataku dan ternyata Maya juga sudah terbawa perasaannya sendiri. Aku sendiri tidak bisa berkata-kata apa-apa mendengar pengakuan Maya disaat seperti ini.
Selama satu hari itu kulewatkan waktu untuk menemani Maya tanpa banyak berbicara, kami hanya saling berpandangan dan tersenyum sekali-sekali sebelum akhirnya senyumannya itu berubah menjadi rintihan karena menahan rasa sakit. Tidak mungkin aku meninggalkannya hari ini setelah apa yang aku dengar dari mulut Maya. Untuk menghiburnya, kubisikan di tengah tidurnya malam itu “aku juga mencintaimu Maya … ”
Malam itu Maya tertidur dengan lelap, dan kulihat dia tersenyum seakan mendengar bisikanku.
untuk sahabatku yang ada di antara bintang-bintang malam, bersinarlah terus supaya aku bisa mengingat selalu senyummu …

